
Pada saat pertama melihat rumah ini kondisinya sangat menyedihkan, sebagian plafond sudah
lapuk dan hampir lepas, jendela kayu dimakan rayap, lantai keramik yang pecah dan
tergores serta cat dinding yang mengelupas di mana-mana. Satu hal yang patut disyukuri
adalah kuda-kuda atap rumah dan struktur rumah masih bagus kondisinya, sehingga dapat
menghemat biaya renovasi.
Perbaikan awal difokuskan pada bagian atap, untuk mencek apakah ada yang bocor, ternyata
ditemukan beberapa genteng bocor dan bergeser, yang langsung diganti yang baru. setelah
itu mulai dengan memperbaiki bagian2 kusen yang dimakan rayap dengan kayu yang baru,
untuk menghemat anggaran kusen tidak diganti semua. Dilanjutkan dengan membongkar dinding lama untuk perluasan dapur dan kamar tidur,lalu membuat dinding baru. Untuk menghemat waktu dan biaya, dinding baru di belakang dibuat dari batako dengan tinggi 40 cm,
ditambah rangka kaso dan ditutup dengan GRC board dan difinish dengan cat tembok
eksterior. Dengan sistem seperti ini menghemat waktu finishing dan ongkos tukang, serta
menghemat material karena dinding dari GRC tinggal dicat saja, tidak perlu diaci, dan
setelah dicat hasilnya terlihat seperti dinding biasa.

Puing-puing hasil bongkaran dapat dipergunakan untuk pondasi dinding yang baru, juga
untuk mengurug lantai dan teras baru. perlu diperhatikan juga, kadangkala di antara puing
hasil bongkaran masih tersisa bata merah yang masih bisa dipakai untuk penambahan dinding
baru. Bahkah Bata merah yang tersisa bisa dijadikan pengganti batu kerikil untuk mencor
meja dapur.

Intinya untuk menghemat anggaran biaya renovasi, banyak cara bisa dilakukan, jangan
terlalu terpaku dengan material yang sudah standar.